Aku mengemasinya satu persatu, menatanya rapi dalam sebuah kotak berwarna ungu dan menyisakan sebuah catatan kecil di sebelah telepon genggamku.
Melewati Senin ini, dan menyiapkan langkah untuk menapaki selasa, rabu, kamis dan jumat yang akan membawamu datang kesini. Sementara saja, tapi aku membutuhkannya untuk mengikat kembali atom-atom yang mulai melemah dan membutuhkan energi dari nukleusnya.
Dan nanti, jika kau tiba, tolong isi kembali pundi-pundi yang tadi kusimpan, didepannya telah kutulis dengan tinta warna biru, warna kesukaanmu, dengan huruf miring dan tebal-tebal sedikit acak-acakan karena aku terlalu bersemangat menyambutmu datang.
Isilah senyummu, cintamu, padangan matamu, cibiranmu, omelanmu dan juga pelukan hangat yang selalu bisa membuat dunia yang bergetar hebat ini mereda dalam sekejab.Telepon ini akan selalu menunggumu, seperti bel rumah yang juga selalu menunggu jejak jemarimu, dan akhirnya diriku yang selalu menikmati detik demi detik kembalimu padaku.
Aku merinduimu, serupa ombak yang mendamba garis pantai, sekuat angin yang meniup hujan agar tetesnya menemui ladang gersang, semerah api yang bertemu oksigen dalam nyalanya, dan senestapa hamba berdosa yang memimpikan nirwana.
503 kilometer darimu, Aku rindu …..
*gambar dari canonphotos.com
2:44 AM |
Category:
prosa
|
Nyi Iteung melipat pakaian – pakaian yang sedianya akan dibawa suaminya ke kota, Kabayan terpilih menjadi petani terbaik sekabupaten dan memperoleh penghargaan dalam rangka mengenalkan pertanian organik ke masyarakat di desanya.
“Akang mau bawa pakean sabaraha? perlu bawa jas henteu? éh pan akang henteu boga jas enya ? “ seloroh si Iteung sambil terus melipat. Si Kabayan duduk bersila di atas bale bambu, sambil mengipasi ubi goreng yang baru diangkat Ambu dari penggorengan.
“Nyi Iteung bener ga mau ikut? Urang pan bisa sekalian jalan-jalan di kota ..” Nyi Iteung menggeleng.
“Henteu ah kang, saya mah éra engké di ditu daék keur naon, saya pan bodoh ga ngerti nanaon “
10:17 PM |
Category:
Fiksi
|
Judulnya sangar, ini pasti gara-gara tender-tender berbahasa "Engress" yang tersebar berantakan di meja saya :v
15 Desember 2010
Percakapan dengan si Ayah yang sedang bertugas di kota M *berasa baca buku detektif*
Saya : nanti handphone e*ia-nya jangan dimatiin ya ...
Ayah : emang kenapa gitu ?
Saya : Kan besok ayah ulang tahun aku mau telpon *senyum sok perhatian*
Ayah : Yeeee .... kan masih besoknya lagi, aku lahir tanggal berapa coba?
Saya : :f
11:33 PM |
Category:
fams
|