Serius, saya sampai mencari arti cuek di Wikipedia, menggunakan jasa mbah google, dan hasilnya bisa disimak disini

Okay then, kenapa tiba-tiba saya pengen ngomongin tentang cuek? Begini ceritanya *elus jenggot* *jenggotnya pak raden* *emang punya*

Saya pernah berkonflik sebut saja Z, beberapa kali, tapi pada akhirnya saya mengalah dan mengatakan pada diri saya sendiri, itu prosesnya untuk berubah, temani saja dan dukung dia. Hingga pada suatu waktu saya merasa sangat tidak nyaman dengan tindakannya, saya pun akhirnya mulai menepikan diri dan tidak berusaha lagi untuk mengikuti alur hidupnya. Entah, apakah yang saya lakukan ini salah atau benar, pernah sekali waktu saya meminta pendapat teman saya yang saya pandang lebih mumpuni baik dalam ilmu psikologi maupun agamanya, saya menceritakan walaupun tidak secara gamblang konflik yang terjadi pada saya dan si Z ini, temen saya ini mengemukakan beberapa solusi yang kebetulan sebagian besar sudah saya coba, tapi toh hasilnya nihil.

Setelah itu, saya memutuskan untuk diam dalam artian sudahlah, apapun yang dilakukannya sepanjang tidak menyinggung keberadaan saya tidak akan saya hiraukan. 
Selesai ? tidak ternyata, hari ini setidaknya saya mendapat laporan dari beberapa teman yang ternyata juga berkonflik dengan si Z ini, bukan hanya teman sebaya saya, bahkan yang lebih senior. Beberapa kali teman saya cerita, saya berusaha untuk menganggap itu lelucon belaka, bahkan saya berfikir, ini ujian dari Tuhan supaya saya bisa berfikir jernih, ndak memihak dan tidak termakan gossip.

Seperti hari ini, akhirnya saya sedikit terusik, ketika teman saya menceritakan
“aku tuh ndak nanya sama sekali bahkan, orang atasanku yang nanya, dan banyak orang diruangan ini dia (Z) tiba-tiba ngomel sendiri tanpa aku tahu maksutnya apa, aku malu mbak, iya malu banget”
Saya diem aja dipojokan, niat saya datang ke mejanya mau ngurusin kerjaan, akhirnya harus ikut mendengarkan dia yang tiba-tiba curhat colongan.

Entah itu laporan minus keberapa kali yang saya dengarkan hari itu, secara garis besar si Z ini sebenarnya normal-normal saja, tapi memang dia punya kecenderungan untuk bertindak semau gue tanpa memperhatikan kondisi yang ada. Seperti yang saya bilang diatas, dia selalu memproklamirkan dirinya sebagai orang yang cuek. Naa … masalahnya, apa iya cuek itu sebegitunya? 

Jadi saya tanyakan kembali, apakah memang seperti itu yang dinamakan cuek ? toh kita hidup didunia ini bareng-bareng ndak sendirian di atas pohon, saya sih dibilang ndak cuek ya cuek tapi ndak ada salahnya to, kalau orang hidup itu jangan maunya dimengerti tapi harus mengerti orang lain juga. Menghormati orang yang lebih tua, membiasakan diri untuk mengucapkan terimakasih. Hal-hal sepele yang sebenarnya membantu kita agar tidak terhindar dari sikap sombong. 

Pribadi yang menyenangkan itu lebih enak diajak temenan daripada muka cantik tapi songongnya ampun ampunan lho tuips whahihi. 

Anyway ini postingan semacam cubung, karena saya juga bingung, kenapa teman-teman mendadak curhat kalo melihat muka saya lagi bengong, apakah dengan bengong muka saya mirip tempat sampah? *nyerokin pasir di pantai* *buang ke gunung merapi*
Hidup itu seperti berkebun, apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai kelak.
Baiklah … selamat ngantor setelah libur panjang, cuek ga cuek yang penting tetaplah memakai nurani dan logika ketika bertindak.



 ps. gambar dari google


Comments (2)

On May 19, 2011 at 3:26 AM , julinapurwaningsih said...

cubung apaan yak? cuek bung? *perasaan baru denger, hehe*

 
On May 31, 2011 at 4:03 AM , Bintang said...

Banyak orang yang bangga dengan kecuekan yang dimiliki...hehe, padahal sebenernya cuek itu kan nggak peduli alias egois :P

Apapun Yuk, yang nyebelin-nyebelin itu kayaknya bakal kasih kita ilmu baru, yaitu ilmu ikhlas dan nggak ikut nyebelin kayak mereka...
;)