Seragam blazer warna biru donker, dengan lapis baju putih di dalamnya, jilbab senada, tas dan sepatu yang ga kalah macthing warnanya.

Dengan langkah yang super Pe-De, berjalan menuju lobby utama kantor saya, bak peragawati yang lagi berlenggang lenggok di catwalk. Tangan kanan menjinjing tas tangan dengan manis, tangan kiri berayun seirama gerak langkah kaki yang bersepatu baru dengan hak tinggi yang menggoda.
Pokoknya, saya tampil perfect!


Beberapa langkah lagi, saya akan menaiki tangga lobby, menapak satu demi satu anak tangga yang berlapis granit hitam mengkilap itu dengan high heels saya yang masih kinclong baru keluar dari kardus, oh satu momen penting pagi ini, I feel so sexy then.
Satu …dua…kira-kira 2 langkah lagi saya akan mencapainya
Dan
Gubrakkk…!!!!!!!!!!!!
Sepatu saya mencolot…
Saya terpelanting dengan sukses ke arah depan, dengan posisi satu kaki di depan satu di belakang, bak pemain senam yang sedang melakukan gerakan melebarkan kaki ke arah yang berlawanan. Untunglah (aah dasar orang jawa, sudah jatuh masih untung) muka saya tertahan dengan tas yang tadi saya jinjing dengan manisnya, sehingga selamat dari pendaratan darurat ke lantai yang saya yakin cukup keras untuk dicium.

Satu : ternyata lantai baru dipel dan sang penjaga lupa menaruh tulisan “awas lantai basah” di area lobby
Karena terlalu pe-de dan kepala yang penuh sesak oleh angan-angan tentang bagaimana menawannya saya melangkah dengan my new high heels, akhirnya sisa-sisa lap basah yang ada di granit itu kasat mata.
Dua : sepatu saya ini mempunyai sejarah yang cukup panjang, hasil dari lapar mata dan ketidakcocokan ukuran yang saya paksakan, ketika saya biasa memakai ukuran 38, saya bersikukuh untuk mengambil sepatu yang berukuran 39 (yang tinggal satu-satunyaukuran terkecil yang tersisa), karena saya terlalu bernafsu untuk memiliki sepatu cantik yang menawan ini.
Dengan begitu, bukan salah sepatu kalau akhirnya dia dolan-dolan sendirian meninggalkan kaki saya yang tidak mampu menguasai area di luar kesanggupannya. Memakai sesuatu yang kelihatan cocok dikaki saya, padahal sebenarnya tidak sesuai, dan saya memaksakan diri karena merasa itu yang terbaik buat saya(pembelaan diri dari : bodo amat ang penting gue suka). Andaikan saya bisa berfikir jernih, untuk menahan diri tidak membawa pulang si high heels itu, mungkin pagi ini cukup sempurna dengan sepatu saya yang lama, setidaknya saya tidak perlu memberi hiburan gratis pada orang-orang yang sedang lalu lalang di lobby.

Ya, begitulah, nafsu itu memang nyawanya hidup(katanya sih), membuat bersemangat dan membuat sesuatu terasa spesial, tapi jika tidak dikendalikan dengan baik, bisa membunuh! 

*yang terakhir agak berlebihan deh, yaa kalau kondisi terpeleset, paling parah lecet-lecet sama agak linglung sejenak gara-gara nahan malu *MySpace

Comments (3)

On June 18, 2010 at 6:08 AM , triiz said...

pertamax ya :D
kok sial gitu mbak,gara2 sepatu baru ya :D
mbak saya ngadain voting,di tunggu partisipasinya ya,sarannya juga kl bisa :D


salam persahabatan ,-

 
On June 18, 2010 at 7:34 PM , yuyuk said...

hehehe...sudah berpartisipasi gan ;)) makasih yaaa

 
On July 6, 2010 at 10:46 PM , bernadusnana said...

hehehehe
PD abis deh...

salam,
bernadusnana