Ja
Pria, akhir medio 30-an, kreatif, terlalu kreatif bahkan terkadang. Keras kepala, sangat, dan sering uring-uringan ga jelas layaknya perempuan yang sedang menderita PMS.
Ja tergila-gila dengan malam, baginya adalah kepuasan ketika bisa menjajah hening gelap dengan keriuhannya sendiri, bahkan Ja seringkali sesumbar "bagiku menikmati keriuhan malam adalah lebih indah dari sekedar lembaran-lembaran inpois yang mulai mengucurkan dana" sumpah yang ini saya mah sangsi sama si Ja, terlalu lebay dia.



Tapi sejak beberapa bulan lalu, sejak Ja mengenal La, sejak Ja tepahat pesona gadis berambut sebahu itu. Ja adalah lelaki yang tiba-tiba menyukai pagi dan tak mengindahkan malam. La sukses membuat Ja terpesona, luruh, luluh dan menyerah bahkan sedikit memaksa untuk hadir di setiap waktu La, untuk sekedar duduk diam di sampingnya. Menikmati pahatan raut wajah yang selalu membuat malamnya bertabur bintang, bahkan disaat mendung *namanya juga cinta terkadang kan diluar logika :p*
La bukan gadis yang sukar ditebak, sepengetahuan Ja, dia sederhana, diamnya lebih banyak diartikan sebuah penerimaan lagi-lagi menurut Ja. Dan Ja, semakin yakin La adalah the right one yang selama ini dicarinya.
Bulan berlalu, angin berhembus berganti waktu.
Bahagia Ja pun sepertinya, tidak selamanya kekal. La tidak seperti yang diimpikannya. La memilih orang lain.
Ja pun tak sanggup lagi untuk berfikir dengan logis, perasaannya pada La sedang tumbuh dan mulai menampakkan kuncup-kuncup yang siap bermekaran jika musim bunga datang. Dan La, mencabut akarnya dengan tiba-tiba, tidak hanya membuat kuncup itu gugur tapi membuat pohon yang telah kokoh itu mati.
La memilih orang lain, lelaki lain, lelaki yang ada di saat Ja juga ada di samping La. Lelaki yang telah memenangkan hati La, dan membuat dia seperti pesakitan. Ja terluka, sangat....

La

Perempuan, akhir 20-an. Sempurna, dengan kulit kuning bersih khas wanita asia. Bermata sipit dengan lengkung alis yang tajam dan bertaut di tengahnya.
La mengenal Ja, dan La menikmati waktunya bersama Ja. Tapi ternyata itu tidaklah cukup untuk La, dan walaupun harus membuat Ja terluka, dia memilih Ran. Laki-laki yang menurutnya lebih mampu memberikan jaminan kemapanan, seperti yang dia inginkan.

Ran
Absurd, tidak terdefinisi, lelaki yang tiba-tiba muncul dan mendapatkan La. Dan Ran, semoga kau tidak terluka sama seperti Ja....nanti...semoga...

Epilog
Di sebuah cafe, sore hari yang merambat malam.
Ja menenggak capucino yang kesekian gelas *biar patah hati ga boleh mabok yaa:p*
Penat rasanya ingin mengganti bayangan La di benaknya. Entah harus apa lagi yang dilakukannya, La harus enyah dari hidupnya, harus.
Gerimis masih basah di luar, seorang gadis masuk tergesa-gesa sambil menangkupkan payung berwarna merah hati di pintu masuk. Pelan di amengibas-ngibaskan rambutnya yang sedikit basah, percikan-percikan lembut menghunjam di wajah Ja, dan membuat Ja hanya mampu terdiam...
"aaah maaf..saya ga sengaja" gadis itu buru-buru menghampiri Ja dan menyodorkan selembar tissue.
Ja melongo, tangannya hanya mampu bergerak ke depan menerima uluran tangan halus di depannya.
"saya Nan"
"Ja"
Dan benaknya pun seketika bersih dari bayangan La, karena ada siluet yang lebih nyata terpahat di depannya.
Roda berputar, hidup pun mengalami perubahan, terkadang luka itu datang, agar kita tak lupa bagaimana rasa bahagia.
*oaheeemmm ngantuk deh....selamat hari selasa besok :D*

gambar minjem dari getty imaje :)

Comments (1)

On October 12, 2010 at 6:44 AM , walikan'e said...

ora mabuk yaaa....malah semakin enjoy dengan perasaan disakiti.semakin penasaran apa itu sakit, semakin ingin tahu apa itu terluka.....*stok tentir jik akeh..hihihi..